Minggu, 18 Mei 2014

RESUME MATERI METODE ILMIAH

RANGKUMAN MATERI METODE ILMIAH
1.   Latar Belakang
Penyakit mosaik yang disebabkan oleh virus merupakan salah satu factor pembatas penting dalam budidaya cabai. Penyakit mosaik menjadi penting karena kerugian yang ditimbulkannya cukup besar.
Sampai sekarang tindakan pengendalian yang dilakukan masih kurang memberikan hasil yang memadai karena beberapa alasan, tanaman cabai yang terlanjur terinfeksi tidak dapat disembuhkan karena belum ada bahan kimia yang mampu membasmi virus, hampir semua varietas cabai yang dibudidayakan di Indonesia rentan terhadap infeksi virus sumber inokulum virus di lapang selalu tersedia karena pola penanaman cabai yang umumnya tidak serempak tindakan pengendalian mungkin dapat disusun. TMV misalnya, dapat terbawa benih cabai namun tidak dapat  ditularkan oleh serangga, sehingga penggunaan benih cabai bebas virus bias digunakan sebagai alternatif pengendalian .

2.   Pada kondisi udara tenang
kutudaun (vektor virus mosaik) akan lebih banyak terbang ke arah lokasi yang berwarna hijau seperti adanya pertanaman. Dari spesies-spesies kutudaun yang sudah diteliti ternyata hampir semuanya menghindari pantulan Sifat repellent dari cahaya perak ini  memberi peluang kepada kita untuk menggunakan mulsa plastik perak sebagai  pemantul cahaya yang bersifat repellent terhadap kutudaun. Penularan virus  dilakukan secara non persisten dan cara penularan ini bisa menjadi celah untuk  menghindari penularan virus ke tanaman utama dengan menggunakan suatu tanaman berukuran lebih tinggi sebagai tanaman penghalang.

Mulsa plastik yang berwarna perak memiliki kemampuan memantulkan  sekitar 33 persen cahaya matahari yang menerpa permukaannya Pantulan cahaya ini mampu mengurangi efek pemanasan rizosfir di bawah  permukaan plastik, dan juga merupakan rentang cahaya yang disukai oleh  serangga, sehingga serangga akan mengikuti arah pantulan dan meninggalkan pertanaman,

3.    Tanaman cabai yang terinfeksi virus menunjukkan gejala mosaik; klorosis, keriting,ekrotik, dan kerdil Jarak tanam yang digunakan 50 cm x 100 cm

A.      Pembenihan
Pembuatan benih cabai rawit dilakukan dengan penyeleksian benih yaitu  dengan cara merendam biji cabai rawit dalam air. Biji yang baik akan tenggelam  sedangkan biji-biji yang keriput akan mengambang dan yang mengambang dibuang tujuanya supaya pertumbuhanya seragam.

B.       Penanaman benih dipersemaian
Selama pemeraman benih dilakukan penyiapan media  esemaian, berupa tanah yang sudah diayak halus dan ditempatkan pada tray. Tray dengan 128  lubang yang sudah berisi media ditanami benih-benih yang sudah berkecambah  dalam pemeraman sebanyak 2-3 biji per lubang. Setelah penanaman selesai,  ditaburi sekam padi untuk mengamankan benih dari gangguan fisik pada saat penyiraman.

C.      Persiapan Lahan dan Penanaman
Lahan diolah sebagaimana mestinya dan dibuat guludan dengan panjang  600 cm dan lebar sekitar 200 cm. Setiap lubang tanam diisi dengan pupuk  kandang dengan dosis 5 kg dan pupuk NPK sebanyak 20 g per lubang sebagai  pupuk dasar. Untuk perlakuan mulsa, guludan ditutup dengan mulsa plastik yang  berwarna hitam perak dan dibuatkan lubang berdiameter 10 cm dengan jarak 50 cm x 100 cm sesuai dengan jarak tanam
D.     Pemeliharaan Tanaman di Lapangan
Pemeliharaan tanaman di lapangan meliputi: penyiraman, penyulaman,  penyiangan, dan pemupukan
E.      Pengamatan
Pengamatan dilakukan setiap hari dengan mengamati perkembangan  gejala mosaik yang terjadi pada semua individu tanaman pada setiap petak  percobaan. Konfirmasi infeksi virus pada tanaman yang bergejala mosaic.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar