RANGKUMAN MATERI METODE ILMIAH
1.
Latar
Belakang
Penyakit mosaik yang disebabkan oleh virus merupakan
salah satu factor pembatas penting dalam budidaya cabai. Penyakit mosaik
menjadi penting karena kerugian yang ditimbulkannya cukup besar.
Sampai sekarang tindakan pengendalian yang dilakukan
masih kurang memberikan hasil yang memadai karena beberapa alasan, tanaman
cabai yang terlanjur terinfeksi tidak dapat disembuhkan karena belum ada bahan
kimia yang mampu membasmi virus, hampir semua varietas cabai yang dibudidayakan
di Indonesia rentan terhadap infeksi virus sumber inokulum virus di lapang
selalu tersedia karena pola penanaman cabai yang umumnya tidak serempak
tindakan pengendalian mungkin dapat disusun. TMV misalnya, dapat terbawa benih
cabai namun tidak dapat ditularkan oleh
serangga, sehingga penggunaan benih cabai bebas virus bias digunakan sebagai
alternatif pengendalian .
2.
Pada kondisi udara tenang
kutudaun (vektor virus mosaik) akan
lebih banyak terbang ke arah lokasi yang berwarna hijau seperti adanya pertanaman.
Dari spesies-spesies kutudaun yang
sudah diteliti ternyata hampir semuanya menghindari pantulan
Sifat repellent dari cahaya
perak ini memberi peluang kepada kita
untuk menggunakan mulsa plastik perak sebagai
pemantul cahaya yang bersifat repellent terhadap kutudaun.
Penularan virus dilakukan secara non
persisten dan cara penularan ini bisa menjadi celah untuk menghindari penularan virus ke tanaman utama
dengan menggunakan suatu tanaman berukuran lebih tinggi sebagai tanaman
penghalang.
Mulsa plastik yang berwarna perak memiliki kemampuan
memantulkan sekitar 33 persen cahaya
matahari yang menerpa permukaannya Pantulan cahaya ini mampu mengurangi efek
pemanasan rizosfir di bawah permukaan
plastik, dan juga merupakan rentang cahaya yang disukai oleh serangga, sehingga serangga akan mengikuti
arah pantulan dan meninggalkan pertanaman,
3.
Tanaman
cabai yang terinfeksi virus menunjukkan gejala mosaik; klorosis, keriting,ekrotik,
dan kerdil Jarak tanam yang
digunakan 50 cm x 100 cm
A.
Pembenihan
Pembuatan benih cabai rawit dilakukan dengan penyeleksian
benih yaitu dengan cara merendam biji
cabai rawit dalam air. Biji yang baik akan tenggelam sedangkan biji-biji yang keriput akan
mengambang dan yang mengambang dibuang tujuanya supaya pertumbuhanya seragam.
B. Penanaman benih dipersemaian
Selama pemeraman benih dilakukan penyiapan media esemaian, berupa tanah yang sudah diayak halus dan ditempatkan pada tray.
Tray dengan 128 lubang yang sudah
berisi media ditanami benih-benih yang sudah berkecambah dalam pemeraman sebanyak 2-3 biji per lubang.
Setelah penanaman selesai, ditaburi
sekam padi untuk mengamankan benih dari gangguan fisik pada saat
penyiraman.
C.
Persiapan
Lahan dan Penanaman
Lahan diolah sebagaimana mestinya dan dibuat guludan
dengan panjang 600 cm dan lebar sekitar
200 cm. Setiap lubang tanam diisi dengan pupuk
kandang dengan dosis 5 kg dan pupuk NPK sebanyak 20 g per lubang sebagai pupuk dasar. Untuk perlakuan mulsa, guludan
ditutup dengan mulsa plastik yang berwarna
hitam perak dan dibuatkan lubang berdiameter 10 cm dengan jarak 50 cm x 100 cm
sesuai dengan jarak tanam
D.
Pemeliharaan
Tanaman di Lapangan
Pemeliharaan
tanaman di lapangan meliputi: penyiraman, penyulaman, penyiangan, dan pemupukan
E.
Pengamatan
Pengamatan dilakukan setiap hari dengan mengamati
perkembangan gejala mosaik yang terjadi
pada semua individu tanaman pada setiap petak
percobaan. Konfirmasi infeksi virus pada tanaman yang bergejala mosaic.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar