Minggu, 18 Mei 2014

TUGAS PROPOSAL BAHASA INDONESIA

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kondisi perekonomian Indonesia yang semakin tidak menentu menyebabkan banyak permasalahan yang timbul dalam kehidupan bermasyarakat. Salah satunya yaitu tingginya tingkat pertumbuhan penduduk terutama di kota besar, yang mengakibatkan semakin berkurangnya lahan pertanian maupun peternakan. Seiring dengan semakin padatnya populasi penduduk yang diikuti peningkatan penghasilan perkapita menjadikan masyarakat lebih bersifat konsumtif. Dalam hal ini kebutuhan primer manusia yaitu, meliputi pangan, sandang, dan papan  semakin meningkat pula terutama di negara berkembang. Salah satunya Indonesia, pemenuhan kebutuhan konsumsi bahan pangan yang banyak mengandung karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan sebagainya, sangat dibutuhkan karena hal ini dapat memberikan dampak yang besar terhadap penduduk dalam rangka peningkatan kualitas SDM (Sumber Daya Manusia) Indonesia. Terutama kebutuhan protein baik protein nabati maupun hewani sangat diperlukanSalah satunya protein hewani baik berupa daging, telur, dan susu.  Terutama daging, mutu dan kualitasnya tergantung pada produksi daging hewan ternak yang beredar di pasaran. Baik tidaknya mutu dan kualitas daging sebetulnya sangat dipengaruhi oleh fasilitas yang diberikan kepada hewan ternak. Apabila fasilitas yang diberikan itu memadai maka bukan tidak mungkin jika daging hewan ternak potong yang beredar di pasaran memenuhi baik mutu maupun kualitasnya. Adapun jenis fasilitas pokok yang seharusnya diberikan pada hewan ternak antara lain, yaitu pemberian makan dan pemeliharaan dengan menggunakan lahan yang cukup memadai. Namun pada kenyataanya pemberian fasilitas pada hewan ternak belum bisa dipenuhi oleh petani ternak yang disebabkan kondisi Indonesia yang sedang mengalami krisis moneter. Kecendurungan ini diduga menjadi penyebab ketidakmampuan produsen sapi potong memenuhi permintaan daging dalam negeri.

Kerugian lainnya adalah banyak terjadi kasus daging yang diimpor ke Indonesia adalah daging yang tidak sehat atau berpenyakit. Maka dari itu, impor daging apabila masih dilakuakan dinilai kurang efektif sebab disinyalir akan semakin memperparah kondisi perekonomian yang terjadi di Indonesia.Untuk itu, agribisnis dibidang peternakan perlu ditingkatkan, karena dinilai paling efektif diterapkan di Indonesia dan sesuai dengan kebijaksanaan Subsektor Peternakan, usaha ternak sapi potong terus-menerus digalakkan untuk mengimbangi permintaan daging yang senantiasa meningkat sementara persediaan kerapkali terbatas. Selain dapat menghemat devisa negara, agribisnis mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Khususnya ternak sapi, baik sapi potong maupun sapi kerja sangat berperan terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat Indonesia yang notabene sebagai masyarakat agararis. Peranan ternak sapi potong dan sapi kerja dinilai berpengaruh besar dalam kehidupan masyarakat Indonesia itu sendiri. Melalui ternak sapi potong, disamping kesejahteraan masyarakat bisa ditingkatkan, kebutuhan gizi, kelestarian alam dan kesempatan kerjapun akan terpenuhi. Sedangkan melalui ternak sapi kerja, yang akhirnya menjadi sapi  potong ini usaha pertanian bisa terbantu. Karena itu sapi kerja jelas merupakan partner bagi para petani dalam usaha mengolah tanahnya. Itulah sebabnya mengapa kembali ke agribisnis dinilai sangat efektif. Maka dari itu, pemerintah dituntut keterampilannya dalam meningkatkan agribisnis yang lebih banyak mendatangkan keuntungan, terutama dalam pengusahaan ternak sapi potong dan sapi kerja.Mengenai permasalahan kondisi ekonomi Indonesia yang menglami krisis moneter yang berdampak luas terutama terhadap sektor pertanian (termasuk didalamnya peternakan) di atas, maka saya tertarik untuk meneliti apa yang terjadi di area di perkebunan jati dan karet,dimana tempat tersebut sering dimanfaatkan oleh penduduk sekitar untuk kegiatan berternak terutama ternak sapi.
1.2 Rumusan Masalah
Dalam penelitian ini yang menjadi permasalahan adalah:
  1. Bagaimana model peternakan rakyat di perkebunan jati dan karet
  2. Jenis tumbuhan apa saja yang menjadi bahan makanan sapi ingon di perkebunan jati dan karet..
  3. Apa manfaat yang diperoleh masyarakat sekitar dalam mengusahakan peternakan sapi dengan sistem ingon.
  4. Apa pengaruh peternakan sapi ingon tersebut terhadap kemajuan peternakan domestik dalam rangka pemenuhan kebutuhan daging lokal.
1.3 Tujuan Penelitian
  1. Mengetahui model peternakan rakyat di perkebunan jati dan karet.
  2.  Mengetahui jenis tumbuhan apa saja yang menjadi bahan makanan sapi ingon di perkebunan jati dan karet.
  3. Mengetahui manfaat yang diperoleh masyarakat sekitar dalam mengusahakan peternakan sapi dengan sistem ingon.
  4. Mengetahui pengaruh peternakan sapi ingon tersebut terhadap kemajuan peternakan domestik dalam rangka pemenuhan kebutuhan daging lokal.
1.4 Manfaat Penelitian
Manfaat hasil dari penelitian ini di harapkan berguna untuk berbagai pihak, baik secara teoritis maupun secara praktis, diantaranya sebagai berikut:
1. Secara teoritis
Secara teoritis diharapkan dapat dijadikan sebagai pedoman dalam upanya meningkatkan pembelajaran khususnya di sektor pertanian Indonesia yakni dalam bidang peternakan.
2. Secara Praktis
Secara praktis penelitian ini dapat memberikan sumbangan kepada:
a. Mahasiswa
Memperoleh pembelajaran mengenai cara bagaimana meningkatkan mutu peternakan Indonesia.
1.5 Asumsi
Guna memperjelas pemahaman tentang ruang lingkup dalam penelitian ini, maka kami jelaskan beberapa istilah sebagai berikut:
  1. Penggemukan adalah usaha mengubah bentuk protein makanan agar bias dicerna menjadi protein hasil ternak yang dapat dimanfaatkan oleh manusia.
  2. Perkebunan adalah tempat atau lahan luas yang dipergunakan untuk penanaman dan pembudidayaan tumbuhan tertentu.
  3. Sapi ingon adalah sebutan untuk sapi-sapi yang diternak di perkebunan jati dan karet di kecamatan Mijen, kota Semarang karena memanfaatkan kebun jati dan karet sebagai lahan peternakan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Golongan Sapi Potong dan Kerja
Sapi-sapi yang sekarang ada dan tersebar hampir di seluruh permukaan bumi ini berasal dari jenis-jenis sapi primitif. Sapi-sapi jenis primitif tersebut adalah golongan :
a.       Bos Sondaicus, atau Bos Banteng .
b.      Bos Indicus, atau Sapi Zebu.
c.       Bos Taurusm, atau Sapi Eropa (Bambang Agus Murtidja, 1990: 16)
2.2 Perkembangan  Sapi Potong dan Kerja di Indonesia
Perkembangan ternak sapi potong dan kerja di Indonesia belum begitu memadai dan belum begitu maju seperti negara-negara maju. Hal ini tentu saja banyak faktor penyebabnya, antara lain :
a.       Para petani ternak belum memberikan perhatian sepenuhnya, terutama pada segi pemeliharaan , pemberian makan dan bibit yang dipergunakan.
b.      Konsumen kurang.
c.       Konsumen belum bisa mengharagi mutu daging (AAK, 1991: 12)
2.3 Produksi Ternak Sapi di Indonesia
Sampai saat ini ternak sapi di Indonesia belum bisa memberikan produksi seperti ternak sapi di luar negeri. Hal ini dimaklumi, karena :
a.       Sifat pemeliharaannya masih tradisional.
b.      Tidak ada seleksi terarah.
c.       Belum ada suatu penelitian yang bisa memberikan petunjuk jenis sapi   mana yang bisa digemukan di daerah tropis.














Tidak ada komentar:

Posting Komentar